IDENTITAS
Nama : JOAN AJI PAMBUDI
NIM : 72154053
Prodi/Sem. : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
TEMA : Definisi,Pondasi,dan Hierarki Al-Maqamat
IDENTITAS BUKU : Ja’far,
Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi(Medan:
Perdana Publishing, 2016)
Sub 1 : Definisi
Al-Maqamat
Karya-karya para sufi telah
menunjukkan bahwa tasawuf sebagai disiplin ilmu dirancang sebagai media
informasi sebagai disiplin ilmu untuk mendekaykan diri kepada Allah Swt. Sehingga
para penempuh jalan tasawuf akan dapat meraih kemantapan tauhid dan makrifat. Sebab
itu,para sufi menyusun teori mengenai usaha-usaha untuk menempuh perjalanan
spiritual (thariqah) berupa tangga-tangga pendakian spiritual yang disebut
al-maqamat.
Dalam kitab Al-luma’.Al-thusi
menjelaskan bahwa maqamat adalah tingkatan antara seorang hamba dengan Allah
Swt. Yang dibangun atas dasar pelaksanaan ibadah, mujahadah, riyadhah, dan
kebersamaan dengan-nya. Teori al-maqamat sesuai dengan Q.S.Ibrahim/14:14,dan
Q.S.al-shaffat/37:164.sedangkan al-ahwal adalah keadaan hati (qalb) seorang
sufi sebagai akibat dari kemurnian zikirnya.(DR.Ja’far,MA.Gerbang Tasawuf.Hal
48-49-2016)
Sub 2 : Pondasi
Al-Maqamat
Dalam
memperoleh maqam tertentu,selain wajib menjalankan berbagai bentuk
ibadah,mujahadah,dan riyadhah,seorang salik harus melakukan khakwah dan uzlah
dalam melaksanakan perjalanan spiritual menuju Allah Swt. Dalam Risalah
al-Qusyairiyah,al-Qusyairi menjelaskan bahwa menyepi (khalwah) adalah sifat
ahli sufi, dan mengasingkan diri (uzlah) menjadi tanda seseorang telah
bersambung dengan Allah Swt.,praktik spiritual ini memberikan manfaat bagi
penempuh jalan seperti menghindarkan diri dari semua sifat tercela,
menghasilkan kemuliaan,mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dan mengobati hati.
Khalwah (menyepi) adalah pemutusan hubungan dengan makhluk menuju penyambungan
hubungan dengan al-haqq. Khalwah merupakan perjalanan ruhani dari nafsu menuju
hati, dari hati menuju ruh.dari ruh menuju alam rahasia, dan dari alam rahasia
menuju Allah Swt. Sedangkan hakikat uzlah (mengasingkan diri) adalah menjaga
keselamatan diri dari niat buruk orang lain. .(DR.Ja’far,MA.Gerbang Tasawuf.Hal 52-53-2016)
Sub
3 : Hierarki Al-Maqamat
Dalam
karya-karya Tasawuf karangan sufi dari mazhab sunni,akan dapat dilihat ragam
rumusan mengenai al-maqamat sebagai tingkatan yang harus diraih seorang salik
secara mandiri dengan melakukan berbagai al-ibadah,al-mujahadah,dan al-riyadat,mulai
dari maqam perata sampai kepada maqam paling puncak. sekedar contoh,Abi Nashr’Abd
Allahibn;Alial-sarraj al-Thusi (w.988M) menyusun al-maqamatdari maqam pertama
sampai maqampaling puncak,yang dimulai dari tobat (at-taubah), warak (wara’),zuhud
(al-zuhd), kefakiran (al-faqr),sabar (al-shabr), tawakal(al-tawakkul), sampai
rida (al-ridha).susunan menurut Al-Ghazali adalah tobat(at-taubah), sabarc(al-shabr),
fakir(al-faqr),zuhud (al-zuhd), tawakkal (al-tawakkul), cinta (al-mahabbah),
dan rida (al-ridha).
Perbedaan
antara thusi dan al-Ghazali adalah bahwa al-ghazali tidak memasukkan wara’
dalam susunan al-maqamatnya.sedangkan al-thusi tidak memasukkan al-mahabbah
sebagai al-maqam.
Dan harus diketahui bahwa para sufi tidak memiliki
rumusan yang sama mengenai al-maqamat,dan perbedaan tersebut lebih didasari
oleh perbedaan pengalaman spiritual masing-masing. .(DR.Ja’fa,MA.Gerbang Tasawuf.Hal
56-57-2016)
Kesimpulan.
Di
dalam kitab al-Luma’ dan al-Thusi yang menjelaskan bahwa Al–maqamat merupakan
tingkatan spiritual seorang sufi dalam ibadah yang dihadapkan dengan Allah
SWT yang diraih dengan jalan mujahadah
dan mengamalkan nya dengan adab-adab atau perilaku dan sikap-sikap tertentu.
Sedangkan al-ahwal merupakan keadaan hati seseorang yang bukan merupakan hasil
dari usahanya sendiri melainkan pemberian dari Allah SWT.
RELEVANSI DENGAN
BIDANG :
Adapun hubungan sub bab
kali ini dengan jurusan yang saya ambil di Universitas Islam Negeri Sumatera
Utara, penting nya ilmu, tidak hanya ilmu,melainkan kita harus
mengamalkannya,dan menyucikan jiwa. Dalam artian kita sebagai mahasiswa harus
senantiasa bersungguh-sungguh menuntut ilmu,baik itu ilmu Agama maupun ilmu
teknologi, kita harus bisa menyeimbangkan Dunia dan akhirat agar kita tidak
tersesat ke jalan yang salah. Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah layak
nya seperti para Sufi dan mencontoh sifat-sifat para Sufi.